Nyeri Tubuh
Tidak jelas penyebabnya
Autoimun sering berkembang perlahan dan sering tidak disadari. Beberapa gejala awal yang sering dialami pasien:
Tidak jelas penyebabnya
Tidak jelas penyebabnya
Walaupun sudah istirahat
Sering muncul
Berlebihan
Berulang
Mudah lupa (Brain Fog)
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Normalnya, sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari virus, bakteri, jamur, dan parasit.
Namun pada autoimun, mekanisme pengenalan ini terganggu sehingga sistem imun tidak lagi mampu membedakan antara musuh dan jaringan tubuh sendiri.
Akibatnya tubuh mengalami peradangan kronis yang dapat merusak organ.
Bayangkan tubuh seperti sebuah gedung dengan sistem keamanan otomatis.
Namun pada penyakit autoimun, sistem keamanan mengalami kesalahan.
Sensor justru menganggap penghuni gedung sebagai ancaman.
Hal inilah yang terjadi pada tubuh penderita autoimun.
Tingkat keparahan autoimun sangat bervariasi tergantung organ yang diserang. Secara umum autoimun dibagi menjadi dua:
Menyerang satu organ tertentu seperti:
Menyerang banyak organ sekaligus dan dapat mengancam nyawa.
Hingga saat ini penyebab pasti autoimun belum diketahui. Namun beberapa faktor yang sering berperan antara lain:
Biasanya penyakit autoimun muncul karena kombinasi beberapa faktor tersebut.
Untuk menilai kemungkinan penyakit autoimun, beberapa pemeriksaan yang sering dilakukan antara lain:
Pemeriksaan ini membantu dokter menilai aktivitas peradangan dan kondisi sistem imun secara menyeluruh.
Dalam pengobatan konvensional, terapi biasanya bertujuan menekan aktivitas sistem imun agar peradangan tidak semakin parah.
Penelitian oleh Lianne S. Gensler et.al menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang steroid seperti glukokortikoid dapat menyebabkan osteoporosis, dengan hingga 40% pasien mengalami fraktur akibat penurunan massa tulang.
Mekanismenya terutama karena penurunan pembentukan tulang (osteoblast). Glucocorticoids Complications lianne.
Dan Studi dalam Endocrinology and Metabolism juga menyebutkan bahwa glucocorticoid-induced diabetes mellitus (GIDM) , glucorticoid induced dm.
Selain itu, steroid juga dapat menimbulkan efek samping lain seperti , penumpukan lemak, gangguan hormonal, dan penurunan daya tahan tubuh
Program Tollerance dirancang untuk membantu mengendalikan aktivasi sistem imun yang berlebihan, bukan sekadar menekannya. Pendekatan ini menargetkan beberapa mekanisme penting dalam proses autoimun, termasuk:
Dengan pendekatan ini, sistem imun diarahkan untuk kembali bekerja lebih toleran dan terkontrol terhadap jaringan tubuh sendiri.
Pada kondisi autoimun, stres oksidatif tinggi dapat memicu pelepasan protein HMGB1 dari inti sel. Protein ini kemudian berfungsi sebagai sinyal bahaya (DAMP) yang mengaktifkan sistem imun dan memicu peradangan kronis.
Selain itu, program ini juga membantu menghambat jalur cGAS–STING, yaitu sistem sensor DNA yang sering terlalu aktif pada penyakit autoimun.
Dengan mekanisme ini, peradangan kronis dapat lebih terkendali.
Pasien wanita usia 60 tahun mengalami:
Setelah menjalani Program Tollerance selama satu bulan, pemeriksaan menunjukkan pengecilan ukuran kelenjar tiroid dan keluhan klinis berkurang secara signifikan.
Pasien dengan trombosit rendah (44 ×103/µL) mengalami:
Setelah mengikuti program, trombosit meningkat menjadi 332 ×103/µL, dan gejala klinis menghilang.
Pasien dengan peradangan kulit berat mengalami:
Setelah menjalani program, pustula menghilang dan peradangan kulit membaik secara signifikan.
Penanganan autoimun tidak hanya bertujuan mengurangi gejala.
Tujuan utamanya adalah:
Pendekatan yang tepat biasanya mencakup:
Saat ini, autoimun umumnya tidak bisa disembuhkan total. Namun, kondisi bisa dikendalikan hingga stabil dan gejala minimal.
Pengobatan biasa fokus menekan sistem imun. Program ini membantu mengontrol dan “menyeimbangkan” respon imun, bukan sekadar menekan.
Setiap orang berbeda, tapi banyak pasien mulai merasakan perubahan dalam beberapa minggu pertama.
Program dirancang dengan pendekatan medis dan pemantauan kondisi pasien secara berkala.
Tidak. Semua penyesuaian dilakukan bertahap dan harus dalam pengawasan tenaga medis.